saat aku tertatih di bawah menara sucimu...
mendengkur setiap lirik batang hidupku...
mengguncang setiap beban dihatiku...
hanya air mata yang bisa keluar...
keluar dari serpih-serpih tulang pipiku...
dalam sakitnya hatiku.... aku bertanya pada anginmu...
kenapa hidupku begini???
tapi kau menjawab tangisan hatiku...
kau tersenyum padaku...
aku bingung...
kenapa engkau dan menaramu tersenyum....
sementara aku menangis....
tapi aku tak menyangka dari serak belukar....
ada seseorang muncul bersama kawanannya...
di depan mataku...
entah siapa mereka???
aku tutup ponsel pipiku...
aku tutup jaringan di hpku...
berharap ada yang melihatku....
seketika seseorang dari mereka menghampiriku...
mencoba membalut diriku yang tertatih...
aku tersenyum...
ada juga yang perduli padaku... "kataku dalam hati
trimakasih pinta dari bibir sembabku
gelir-gelir waktu berganti...
mengukus semua kebahagiaan yang ku rasakan bersamamu...
tiada lagi tangis...
namun, kini kau pun tlah pergi...
meninggalkanku dalam rumah batu ini...
aku tersesat dalam kesakitan ini...
bahkan aku hanya mampu mencurahkan perasaanku...
dalam separuh air mataku ini...
karna separuhnya lagi tlah kau hapus...
sebelum kau pergi...
akankah semua kan terulang?
aku hanya dapat berharap dalam pelik-pelik hidupku
kau takkan melupakanku...
sahabat terbaikku
Pahala Sianturi
Karya : Gracia Sari Asinta Simamora
Agama
dunia seperti didalam neraka
gelap... dan panas...
para rumput jalang bertengkar
membela agama mereka masing-masing
tusukan paku, panah, linggis dan bom...
menjadi senjata tempur mereka
dari belur-belur semak
mereka berperang
darah... luka... kematian
tak dihiraukan mereka
agama bagaikan tiang suci
yang harus dipertahanklan...
tanpa mementingkan naluri...
tiada maaf bagi orang Farisi
tiada maaf bagi orang zinah...
mereka bagaikan matahari dan bintang
saling beradu terang...
agama itu bagaikan pedang
yang menjadi titik tumpu kehidupan mereka...
dan menjadi simbol hanguskan hati nurani mereka
Karya : Gracia Sari Asinta Simamora
gelap... dan panas...
para rumput jalang bertengkar
membela agama mereka masing-masing
tusukan paku, panah, linggis dan bom...
menjadi senjata tempur mereka
dari belur-belur semak
mereka berperang
darah... luka... kematian
tak dihiraukan mereka
agama bagaikan tiang suci
yang harus dipertahanklan...
tanpa mementingkan naluri...
tiada maaf bagi orang Farisi
tiada maaf bagi orang zinah...
mereka bagaikan matahari dan bintang
saling beradu terang...
agama itu bagaikan pedang
yang menjadi titik tumpu kehidupan mereka...
dan menjadi simbol hanguskan hati nurani mereka
Karya : Gracia Sari Asinta Simamora
Menanti
rangkaian syair mengiringiku
meleuhkan tiap langkah hidupku
mengucap tiap kata dibibir lenturmu
berharap dikau kan kembali
ku telaah ke laut lepas
mengarungi ombak nan berkumandang
mengucup duri dihati
selalu menanti... dan menanti
aku bagaikan puyangan daun
hati bergelir bagai tumpukan
mataku tersorot menatap syahdu
melihat pemandangan yang sepi
aku terpaku dalam duniaku
dalam kesendirianku
dan didalam kegelisahanku
memikirkan dirimu
mungkinkah semua kan terulang?
AKU TAK TAHU
mungkinkah ini hanya omongan perkataan burung?
AKU TAK MENGERTI
Karya : Gracia Sari Asinta Simamora
meleuhkan tiap langkah hidupku
mengucap tiap kata dibibir lenturmu
berharap dikau kan kembali
ku telaah ke laut lepas
mengarungi ombak nan berkumandang
mengucup duri dihati
selalu menanti... dan menanti
aku bagaikan puyangan daun
hati bergelir bagai tumpukan
mataku tersorot menatap syahdu
melihat pemandangan yang sepi
aku terpaku dalam duniaku
dalam kesendirianku
dan didalam kegelisahanku
memikirkan dirimu
mungkinkah semua kan terulang?
AKU TAK TAHU
mungkinkah ini hanya omongan perkataan burung?
AKU TAK MENGERTI
Karya : Gracia Sari Asinta Simamora
Cinta Dan Benci
alur bergema berdempung keras
merobek dan menusuk hatiku
melilihkan sebuah kepahitan di hati
membungkam setiap rasa
ingin ku pergi ke laut lepas
merintis cinta yang telah kosong
akibat teramuk dengan dirimu
kini ku seperti angin sepoi
tak bisa memisahkan cinta dan benci dihati
kau yang dulu singgah dihati
kini menjadi debu yang seling terhempas...
teganya kau bercermin muka dibelakangku
aku seperti tak mengenal dirimu
aku...
aku yang telah hancur karnamu...
hancur karna sikapmu...
kau campakkan ku seperti mainanmu
kau setubuhi diriku...
dengan badan telanjang
kau remukkan...
kerat garis perawanku
kau elus tubuhku dan ciumiku seenaknya...
dan sekarang kau tinggalkanku...
KAU PIKIR AKU ANJING????
teganya...
sungguh teganya...
kini rasa cinta dan benci selalu menghantuiku
dapatkah kau merasakannya????
DAPATKAH????
DASAR BIADAB!!!!
Karya : Gracia Sari Asinta
merobek dan menusuk hatiku
melilihkan sebuah kepahitan di hati
membungkam setiap rasa
ingin ku pergi ke laut lepas
merintis cinta yang telah kosong
akibat teramuk dengan dirimu
kini ku seperti angin sepoi
tak bisa memisahkan cinta dan benci dihati
kau yang dulu singgah dihati
kini menjadi debu yang seling terhempas...
teganya kau bercermin muka dibelakangku
aku seperti tak mengenal dirimu
aku...
aku yang telah hancur karnamu...
hancur karna sikapmu...
kau campakkan ku seperti mainanmu
kau setubuhi diriku...
dengan badan telanjang
kau remukkan...
kerat garis perawanku
kau elus tubuhku dan ciumiku seenaknya...
dan sekarang kau tinggalkanku...
KAU PIKIR AKU ANJING????
teganya...
sungguh teganya...
kini rasa cinta dan benci selalu menghantuiku
dapatkah kau merasakannya????
DAPATKAH????
DASAR BIADAB!!!!
Karya : Gracia Sari Asinta
Rindu
pagi menyongsong fajar
meniupkan sebuah dendang lagu
menitipkan rinduku padanya
awan terpancar terang
tersenyum melihat dunia
mengelokkan bumi berkesinambungan
hati yang lelah dipenuhi rasa gundah
oleh karena kerinduan
kini berbaut seperti sutra
tangisan yang selalu mengiringiku
ketika mengingatnya
kini telah terhapus oleh nyanyian putih
burung-burung bernyanyi merdu
mengantarkan salam rinduku padanya
tiba alarm berbunyi
mempertemukan aku dengannya
alangkah bahagianya aku...
dapat melihat engkau...
sahabat masa kecilku
Terima Kasih
dari sudut-sudut petang
ku ucapkan terima kasih
pada kalian ringkusan keringku
saat hati dan mataku
berbalur luka
kalian seakan membawaku ke tepi pantai
kalian hibur aku
saat badanku mati dengan kunci
kalian mencoba mengaktifkan darahku
saat aku merasa hidup dalam tengkorak
kalian mencoba memberiku semangat
dan disaat aku merasa terkucil
kalian elukkan pikiranku
dan mencoba memeluk hatiku
tangisku.... hampaku...
tak bisa hilang tanpa kalian...
kurcaci-kurcaci kecilku...
terimakasih adik-adik kelasku...
yang telah merikut kesedihanku
Karya : Gracia Sari Asinta Simamora
ku ucapkan terima kasih
pada kalian ringkusan keringku
saat hati dan mataku
berbalur luka
kalian seakan membawaku ke tepi pantai
kalian hibur aku
saat badanku mati dengan kunci
kalian mencoba mengaktifkan darahku
saat aku merasa hidup dalam tengkorak
kalian mencoba memberiku semangat
dan disaat aku merasa terkucil
kalian elukkan pikiranku
dan mencoba memeluk hatiku
tangisku.... hampaku...
tak bisa hilang tanpa kalian...
kurcaci-kurcaci kecilku...
terimakasih adik-adik kelasku...
yang telah merikut kesedihanku
Karya : Gracia Sari Asinta Simamora
Doa
doa ibarat bola salju
ibarat alkitab yang suci
dan doa ibarat pramugari
yang menuntun perjalanan hidup
doa ibarat sirna kudus
yang menerangi hidup kita
doa juga merupakan penjara
yang membatasi setiap kelakuan kita
doa begitu murni dan suci
bila didasari oleh iman
doa begitu indah
jika dilandasi kepercayaan...
kesetiaan... dan pengharapan
doa seperti rantai
yang selalu mengekang pikiran brutalku
dan seperti garis lurus yang harus ku ikuti
Karya : Gracia Sari Asinta Simamora
ibarat alkitab yang suci
dan doa ibarat pramugari
yang menuntun perjalanan hidup
doa ibarat sirna kudus
yang menerangi hidup kita
doa juga merupakan penjara
yang membatasi setiap kelakuan kita
doa begitu murni dan suci
bila didasari oleh iman
doa begitu indah
jika dilandasi kepercayaan...
kesetiaan... dan pengharapan
doa seperti rantai
yang selalu mengekang pikiran brutalku
dan seperti garis lurus yang harus ku ikuti
Karya : Gracia Sari Asinta Simamora
Para Patriot Bangsa
dentuman keras merambat
dari kusin-kusin jendela
tanjakan paku bersebaran
darah mengelinang dimana-mana
zenazah-zenazah bertebaran
api yang menggoncangkan hati
banyak membakar ribuan nyawa
bahkan anak-anak pun ikut ditindas
oleh para serdadu jalang
penindasan... peperangan...
menjadi mimpi yang ditakutkan rakyat
mereka hanya dapat bersembunyi
diantara semak belukar
titihan-titihan senjata
menancap dan merobek
tubuh para patriot bangsa
bertarung diarea legalisir
tak kenal lelah
demi bangsa... demi negara...
mereka bersaing dengan para binatang liar
yang tak memiliki hati nurani
diarea perang
pertaruhan nyawa pun jadi kartu kreditnya
membubuhkan darah para patriot bangsa
demi kami para generasi muda
meskipun api di dadamu
telah mencambuk tubuhmu
namun tiada henti perjuangan kalian
sebelum titik penghabisan berakhir...
namun kini...
kami hanya mampu mengingat memory itu
dalam bingkai-bingkai kecil
dan berjanji... takkan pernah melupakan kalian
karna jasa-jasa kalian seperti air mengalir
yang tak pernah habis
dan melebihi emas yang tak terbatas
terimakasih para patriot bangsa
Karya : Gracia Sari Asinta Simamora
dari kusin-kusin jendela
tanjakan paku bersebaran
darah mengelinang dimana-mana
zenazah-zenazah bertebaran
api yang menggoncangkan hati
banyak membakar ribuan nyawa
bahkan anak-anak pun ikut ditindas
oleh para serdadu jalang
penindasan... peperangan...
menjadi mimpi yang ditakutkan rakyat
mereka hanya dapat bersembunyi
diantara semak belukar
titihan-titihan senjata
menancap dan merobek
tubuh para patriot bangsa
bertarung diarea legalisir
tak kenal lelah
demi bangsa... demi negara...
mereka bersaing dengan para binatang liar
yang tak memiliki hati nurani
diarea perang
pertaruhan nyawa pun jadi kartu kreditnya
membubuhkan darah para patriot bangsa
demi kami para generasi muda
meskipun api di dadamu
telah mencambuk tubuhmu
namun tiada henti perjuangan kalian
sebelum titik penghabisan berakhir...
namun kini...
kami hanya mampu mengingat memory itu
dalam bingkai-bingkai kecil
dan berjanji... takkan pernah melupakan kalian
karna jasa-jasa kalian seperti air mengalir
yang tak pernah habis
dan melebihi emas yang tak terbatas
terimakasih para patriot bangsa
Karya : Gracia Sari Asinta Simamora
Aku Yang Tertatih
diantara binar mataku
terpercik cairan nestapa kesedihanku
kesepian menggelingas erat
dalam pucuk hatiku
disebuah sudut yang teramat biasa
ku menatap dirimu
kau tersenyum manja padaku
kini tuk beberapa waktu
hanya bayang amatir dirimu saja
kau menghilang tanpa jejak
apakah kau sudah jemu padaku?
tanyaku pada angin sedap malam
berhari-hari ku menanti kehadiranmu
ku merindukan senyum dari bibirmu
berharap kau kan kembali
menggelung ruas hatiku yang tlah merana
aku hanya bisa mencurca tangisan
aku hanya bisa mengkhayali anganku
aku hany bisa bersedot pada dirimu saja
hari-hariku bak batu terapung
yang membeku dan tiada gunanya lagi
hariku hampa tanpa dirimu
Karya : Gracia Sari Asinta Simamora
terpercik cairan nestapa kesedihanku
kesepian menggelingas erat
dalam pucuk hatiku
disebuah sudut yang teramat biasa
ku menatap dirimu
kau tersenyum manja padaku
kini tuk beberapa waktu
hanya bayang amatir dirimu saja
kau menghilang tanpa jejak
apakah kau sudah jemu padaku?
tanyaku pada angin sedap malam
berhari-hari ku menanti kehadiranmu
ku merindukan senyum dari bibirmu
berharap kau kan kembali
menggelung ruas hatiku yang tlah merana
aku hanya bisa mencurca tangisan
aku hanya bisa mengkhayali anganku
aku hany bisa bersedot pada dirimu saja
hari-hariku bak batu terapung
yang membeku dan tiada gunanya lagi
hariku hampa tanpa dirimu
Karya : Gracia Sari Asinta Simamora
Saat Aku Mulai Menyayangimu
geram hati bertelut ukran waktu
saat canda dan senyum kembali lagi
walau sesekali terjangan ombak
meliput dalam pulir ketakutan
takut ku akan sakit hati lagi
takut kehilangan lagi
namun ku coba bekukan rasa takutku
mencoba membakar halusinasi batu tangisku dulu
dalam kobaran api yang menyala dihatiku
hingga terhempas takutku ke dalam tanah
aku berharap kenangan buruk itu
takkan terulang lagi
karna aku tak ingin lagi
menelan kembali ludah dalam pipiku
menggempar gempita hujan dalam hatiku
di saat aku mulai menyayangimu
Karya : Gracia Sari Asinta Simamora
saat canda dan senyum kembali lagi
walau sesekali terjangan ombak
meliput dalam pulir ketakutan
takut ku akan sakit hati lagi
takut kehilangan lagi
namun ku coba bekukan rasa takutku
mencoba membakar halusinasi batu tangisku dulu
dalam kobaran api yang menyala dihatiku
hingga terhempas takutku ke dalam tanah
aku berharap kenangan buruk itu
takkan terulang lagi
karna aku tak ingin lagi
menelan kembali ludah dalam pipiku
menggempar gempita hujan dalam hatiku
di saat aku mulai menyayangimu
Karya : Gracia Sari Asinta Simamora
Dengar Bisikan Hatiku
angin menalu dalam geput rasaku
mengayun bunga panas dalam hati
saat kau tak disampingku
hari seperti neraka gelap bagiku
saat ku ingat dirimu
tak ku rasakan lagi denyut nadiku
aku tinggal batu lapuk
tanpa dirimu
gumpalan melodi dalam hatiku
selalu berteriak
"DENGAR BISIKAN HATIKU"
yang telah mengaut dalam jarum
saat kau tinggalkanku
bahkan neon...
yang menjadi tembok penyangga kita pun
kini hanya bisa menangis
meratapi perpisahan kita berdua
bertoleh pada suatu keputusan dan pilihan
ikut denganmu... atau dengan diriku...
walau tertatih dalam usia dini...
namun...
ini harus berakhir...
kau telah memilih wanita lain dalam hidupmu...
yang selalu menemanimu
tanpa kau hiraukan lagi keluarga kecilmu...
kau tinggalkanku...
dalam penghabisan pelanduk suaramu...
Karya : Gracia Sari Asinta Simamora
mengayun bunga panas dalam hati
saat kau tak disampingku
hari seperti neraka gelap bagiku
saat ku ingat dirimu
tak ku rasakan lagi denyut nadiku
aku tinggal batu lapuk
tanpa dirimu
gumpalan melodi dalam hatiku
selalu berteriak
"DENGAR BISIKAN HATIKU"
yang telah mengaut dalam jarum
saat kau tinggalkanku
bahkan neon...
yang menjadi tembok penyangga kita pun
kini hanya bisa menangis
meratapi perpisahan kita berdua
bertoleh pada suatu keputusan dan pilihan
ikut denganmu... atau dengan diriku...
walau tertatih dalam usia dini...
namun...
ini harus berakhir...
kau telah memilih wanita lain dalam hidupmu...
yang selalu menemanimu
tanpa kau hiraukan lagi keluarga kecilmu...
kau tinggalkanku...
dalam penghabisan pelanduk suaramu...
Karya : Gracia Sari Asinta Simamora
Rumput Jalanan
hidup ini seperti gerbang penjara
menutupi dan mengekang...
setiap bulir-bulir rumput jalanan…
membasuk keroposnya tulang mereka
dari sabang sampai merauke…
menggongseng pucatnya wajah mereka
merangkas perut bumi mereka
seperti angin yang terbuang
begitulah kehidupan mereka
rumput jalanan yang diungsikan…
dan dianggap lemah…dikawanan singa-singa liar…
mereka terdepuk di kawasan jalan…
mengulurkan tangan sambil meminta-minta
hanya untuk mencari makan...
meminta belas kasihan
pada lebah-lebah yang berkeliaran
tak sedikit dari mereka yang tewas
tak sedikit dari mereka yang menderita
namun…
apakah ada yang perduli dengan rumput jalanan itu?
“TIDAK”
hanya seutip kata sungkawan…
yang terucap dari mulut manis mereka…
namun… tiada rasa peduli mereka…
Karya: Gracia Sari Asinta Simamora
Di Kala Sengitan Langit
batu seakan melinggis hidupku…
menerkam setiap riuk pikuk dering suaraku…
hati ku menanah tangis…
menggebur setetes racun….
setelah melepas kepergianmu….
kini aku baru menyadari….
bahwa diriku seperti putri malu…
yang tak berkutip saat menatap mu
kini aku tahu betapa sakitnya hatiku…
disaat mulutku mulai membisu…
aku seperti kartu memory yang rusak…
hanya dapat mengindah masa lalu
aku seperti parasit…
yang slalu bergantung pada dirimu….
aku tak mampu menjalani hidupku
tanpa dirimu….
andai waktu adalah milikku…
aku ingin mengembalikkan waktu itu
nan mengusik kebersamaan
tanganku yang kau elus
dengan manja
senyummu yang kau kait padaku
dengan manis
seakan tak dapat ku lupakan begitu saja…
hari-hariku seperti hampa…
hatiku seperti bom yang ingin meledak
jika mengingat dirimu…
sahabat……..
aku merindukanmu…
sangat merindukanmu
aku ingin mengirim sepupuk rindu padamu…
melalui sajak puisi ini…
aku ingin kau menjadi bintang
yang tetap bersinar dihatiku
sahabatku….
Puisi ini Karya : Gracia Sari Asinta
Negaraku di Pintu Kritis
negaraku seperti rumah sakit
penderang denyut nadi para dewa
penggempur kenikmatan mereka…
atas penghabisan tengkorak-tengkorak kehidupan…
negaraku yang dulu adalah surga
kini telah berubah menjadi kuburan
negaraku begitu terombang-ambing
berasuh janji manis dewa-dewa
kenikmatan bergempur penderitaan
inilah kekritisan negaraku
dewa seperti layaknya iblis
yang hanya mengucap janji
tapi hanya janji kosong
seperti debu yang lenyap…
ketika semua tercapai
negaraku hancur lebur…
dibawah tangan dewa-dewa kerdil..
pelempengan kekuasaan dan uang…
penindak kekerasan dan kematian…
hmmm…
sengsaranya para liliput yang menghias negaraku…
mereka hidup seperti batu karang…
yang hendak di punahkan…
inilah negaraku…
negaraku di pintu kritis….
Karya : Gracia Sari Asinta
An Unforgettable Love (Cinta yang Tak Terlupakan)
Angin berganti dengan derasnya liliput-liliput kecil dari langit….
membasuk setiap kepis suasana dihatiku…
kadang dengkur suara neraka menjerit dalam hatiku…
ingin daku terbang ke masa purbakala…
kala itu seseorang menggengam hatiku….
dengan gerak elutnya…
memberikan kehangatan padaku….
dengan pancaran senyumnya dihiasnya hatiku….
dalam gelar kacaku…
dia tepis setiap keriput dalam pipiku….
dalam angan manja…
dia memandang wajahku sedalam 3 meter
senandung bunyi piano menghias plot kami….
tawa, canda…. seperti badut-badut mengiringi langkahku….
aku merasa seperti sedang berjalan di atas sungai…. dan tak ingin pulang….
aku ingin selalu berada disampingmu….
namun…
pohon berkata “TIDAK”!!!!!
siulan merpati pun tak terdengar lagi….
hanya terdengar suara gelepar keras dari sudut kota
BRAKKK!!!!
aku pun tercengang dalam gambar kecelakaanmu
memandang dirimu sudah tak berdaya lagi….
jentik-jentik betadine mengiris seluruh badanmu….
seutik kata yang kau katakan padaku….
“AKU MENCINTAIMU”
Karya : Gracia Sari Asinta Simamora
Cinta Antara Aku Dan Dirimu
bergulir-gulir
pecahan emas membasuh hidupku….
memberikan seberkas cahaya kebahagiaan
membuat ku dapat tersenyum manja
di antara bulir-bulir gandum yang bersemayam
tangisku seperti menghilang dari ratapan pipiku
raungan dalam hatiku seakan terdiam sejenak…
teriakan bibirku seakan melemah
ketika engkau ada disampingku
sayang…waktu akan cepat berlalu
memisahkan aku dan dirimu
memisahkan masa-masa kita berdua…
aku kan pergi… namun kan kembali….
untuk menemui dirimu disekolah itu…
aku berharap kita kan bertemu ...
adikku… sayangku
ku berharap tetap dapat menjadi…
kepingan hatimu dan bunga jiwamu
walau ku tak ada lagi di sampingmu…
Karya : Gracia Sari Asinta
memberikan seberkas cahaya kebahagiaan
membuat ku dapat tersenyum manja
di antara bulir-bulir gandum yang bersemayam
tangisku seperti menghilang dari ratapan pipiku
raungan dalam hatiku seakan terdiam sejenak…
teriakan bibirku seakan melemah
ketika engkau ada disampingku
sayang…waktu akan cepat berlalu
memisahkan aku dan dirimu
memisahkan masa-masa kita berdua…
aku kan pergi… namun kan kembali….
untuk menemui dirimu disekolah itu…
aku berharap kita kan bertemu ...
adikku… sayangku
ku berharap tetap dapat menjadi…
kepingan hatimu dan bunga jiwamu
walau ku tak ada lagi di sampingmu…
Karya : Gracia Sari Asinta
Titik Di Akhir Hidupku
Ku unggah sebuah peti di cermin
ajaibku…
melintang segengam hangat kisah bersamamu…
terbingkai indah dalam kado ajalku…
senyuman yang terpancar…
dalam bibir enggalmu….
terbayang dalam embun bertoleh putih…
bayangan dirimu dalam mimpiku…
untaran kait di hatiku…
meresuk… membusuk…
aku hidup menyusup…
di titik akhir hidupku..
aku tak bisa bangun dalam dekapan..
maut cintamu…
aku bagaikan udara…
yang tlah kamu buang…
dengan penuh rantai belatungan hampa
Karya : Gracia Sari Asinta Simamora
melintang segengam hangat kisah bersamamu…
terbingkai indah dalam kado ajalku…
senyuman yang terpancar…
dalam bibir enggalmu….
terbayang dalam embun bertoleh putih…
bayangan dirimu dalam mimpiku…
untaran kait di hatiku…
meresuk… membusuk…
aku hidup menyusup…
di titik akhir hidupku..
aku tak bisa bangun dalam dekapan..
maut cintamu…
aku bagaikan udara…
yang tlah kamu buang…
dengan penuh rantai belatungan hampa
Karya : Gracia Sari Asinta Simamora
Titipan Burung Merpati
bendo itu kembali
yang ku juluki dengan dirimu
sebuah bendo yang slalu
menghias rambutku
terbang melayang entah kemana
aku mencari… dan terus mencari
namun tak ku dapat juga
hingga akhirnya ku menemukan
hari itu kau sapu kesedihanku
dengan senyuman…
hingga membuat hatiku tenang…
namun seketika kau ucapkan…
selamat tinggal padaku…
membuat rasa ku jatuh tak
berdaya…
tiba-tiba aku seperti listrik…
yang padam
dan seperti hujan yang
meneteskan darah
namun kau pegang tanganku
dan kau hapus tangisku
terucap kata kembali dari
mulutmu
yang membuat ku berharap
kau kan segera kembali
tak sanggup menahan rasa rindu
ku titip sebuah kalimat pada
burung
merpati
agar kau tahu betapa resah
hatiku tanpa dirimu
aku… aku….
sungguh sangat merindukanmu…
Rio…
Karya : Gracia Sari Asinta Simamora
Hantu Yang Kembali
Likukan air itu seakan mengalir...
di setiap menit hidupku menepuk sakitnya dada ketika ku harus memilih antara taman dan kebun... cinta dan sahabat
andai aku hanyalah debu
takkan mungkin ku mengenal mereka andai aku adalah roh takkan ku bertemu dengan mereka takkan sesesak ini hatiku
bagai melayang di alam dimensi
saat ku bersama mereka... namun... kini rasanya hatiku padam beku... tak menyala... tak berdaya... ketika harus melintas hariku dengan mereka... dalam rasa peluh
berjalan dalam mulut terjahit...
bergerak dalam hati yang sedih... apa artinya hidup bersama dengan mereka? kalau tuk memilih ... apa arti suka ku ini? kalau juga dibalur oleh sakit...
ingin hatiku bertolerin dengan semua ini...
mencoba mencap semuanya... sebagai angan kosong... tapi.... hatiku berbelut debur dengan keinginan nyataku... aku hanya ingin cinta dan sahabat... menyatu dalam elur penyambung rusukku...
aku tak ingin masuk ke alam neraka...
yang berusaha mengadili dan memborgol... setiap gerakan hatiku ini... cukuplah hatiku ini terkikis perih ... dalam jarak perpisahan ini... asalkan rambut cinta dan rambut sahabat... dapat disatukan kembali
Karya: Gracia Sari Asinta Simamora
|
Antara Cinta Dan Sahabat
Likukan air itu seakan mengalir...
di setiap menit hidupku menepuk sakitnya dada ketika ku harus memilih antara taman dan kebun... cinta dan sahabat
andai aku hanyalah debu
takkan mungkin ku mengenal mereka andai aku adalah roh takkan ku bertemu dengan mereka takkan sesesak ini hatiku
bagai melayang di alam dimensi
saat ku bersama mereka... namun... kini rasanya hatiku padam beku... tak menyala... tak berdaya... ketika harus melintas hariku dengan mereka... dalam rasa peluh
berjalan dalam mulut terjahit...
bergerak dalam hati yang sedih... apa artinya hidup bersama dengan mereka? kalau tuk memilih ... apa arti suka ku ini? kalau juga dibalur oleh sakit...
ingin hatiku bertolerin dengan semua ini...
mencoba mencap semuanya... sebagai angan kosong... tapi.... hatiku berbelut debur dengan keinginan nyataku... aku hanya ingin cinta dan sahabat... menyatu dalam elur penyambung rusukku...
aku tak ingin masuk ke alam neraka...
yang berusaha mengadili dan memborgol... setiap gerakan hatiku ini... cukuplah hatiku ini terkikis perih ... dalam jarak perpisahan ini... asalkan rambut cinta dan rambut sahabat... dapat disatukan kembali Karya: Gracia Sari Asinta Simamora |
Ratuku
tergepur hampa perasaanku
disudut belitung cermin kaca tergampar wajah ratuku sedang terdampar di pasir salju
lampu lalu lintas...
menyinari serangkaian kehidupannya mendetum derak nadinya menghitung waktu dalam lelap tidurnya... terkadang ia menangis...
terlihat kepakan sayap...
di kedua lengan tangannya... terdapat selang pipa... di saluran pernafasannya...
terbalur lemah dia di pelantung besi...
hanya bisa menyayatkan mata air... rusuknya tergumpul ditempat tidurnya terasa buram tubuhnya untuk bergerak
hatiku seketika tertindas arus listrik
dan terhanyut dalam sungai panjang... melihat ratuku tidur dalam ranjang kritisnya.... Karya: Gracia Sari Asinta Simamora |
Marahku
aku
seperti batu mabuk
pikiranku melayang entah kemana
badanku kempes dan layu
rasanya sungguh tak berdaya
seperti sedang berdayung
di bawah limbah sampah
rasanya hampa impian itu
kadangkala khayalanku...
melayang sampai ke angkasa
namun sayapku patah sekejap saja
awalnya semua begitu indah
tetapi setelah ku jalani...
rasanya seperti bara api...
yang berusaha membakar tulangku
aku terapit diantara petir maut
namun ku tetap mencoba bertahan
apakah ku sampai titik kiamat?
aku pun tidak tahu
aku selalu bertanya
mungkinkah?
bisakah?
sanggupkah?
tuk melupakan setiap detik waktu bersamanya...
rasanya hatiku mulai menciut
nyaliku seakan meredam begitu saja
otakku selalu menggelisat bayang dirimu...
teringat akan semua waktu
yang ku habiskan bersamamu
darah seakan menetes di pipiku
tubuhku membeku dalam beberapa menit...
apakah kau dapat mengerti hatiku ini?
saat kau campakkanku...
seperti anjing buangan...
Karya: Gracia Sari Asinta Simamora
pikiranku melayang entah kemana
badanku kempes dan layu
rasanya sungguh tak berdaya
seperti sedang berdayung
di bawah limbah sampah
rasanya hampa impian itu
kadangkala khayalanku...
melayang sampai ke angkasa
namun sayapku patah sekejap saja
awalnya semua begitu indah
tetapi setelah ku jalani...
rasanya seperti bara api...
yang berusaha membakar tulangku
aku terapit diantara petir maut
namun ku tetap mencoba bertahan
apakah ku sampai titik kiamat?
aku pun tidak tahu
aku selalu bertanya
mungkinkah?
bisakah?
sanggupkah?
tuk melupakan setiap detik waktu bersamanya...
rasanya hatiku mulai menciut
nyaliku seakan meredam begitu saja
otakku selalu menggelisat bayang dirimu...
teringat akan semua waktu
yang ku habiskan bersamamu
darah seakan menetes di pipiku
tubuhku membeku dalam beberapa menit...
apakah kau dapat mengerti hatiku ini?
saat kau campakkanku...
seperti anjing buangan...
Karya: Gracia Sari Asinta Simamora
Malaikat Suciku
Kau seperti lemari es...
yang membeku hatiku...
dan menjadikannya kristal...
Hingga ku tak bisa bergerak...
dalam kerumuaian dirimu...
Hatiku terpanah saat memandang dirimu...
Mengalut indah senyumanmu...
Mengisat sejuta tanya di hatiku....
Mungkinkah ku tlah jatuh cinta???
Mungkinkah????Mungkinkah????
Hmmm...
Terasa indah ketika memandang...
malaikat suciku tertawa...
Terasa menggebu lara ku...
dengan pernik merona di pipiku...aku tersiut malu...
Saat kau tebar senyum cakrawalamu...yang paling indah...
Terpancar seratus denyut nadi yang ku rasa...
dag... dig.. dug...
Hatiku berkencum kencang...
Dirimu seperti batu penanggal sekaligus gembok...
yang berusaha mengunci hatiku...
Saat kau terpiuk senyum...
Aku menggelisat tak tentu...
Sikapku berubah aneh setiap berada di dekatmu..
Hmmm...
Benarkah perasaanku ini adalah cinta?
Benarkah engkau adalah malaikat suciku?
yang kan slalu ada untukku
Karya: Gracia Sari Asinta Simamora
Suaramu
Dalam gelam derut malamku....Ku dengar suaramu...Bak pilar halilintar...yang merasuki hatiku...Derai simbolik gitar yang kau mainkan...Lagu yang kau nyanyikan...Membuat hatiku teririt pedih...Aku menangis dalam gembulan kesedihan...Teringat akan kenangan kita...Yang dulu pernah terhapus dalam memoriKetika kita harus berpisah....Lekukan jari gitarmu..buat hatiku tersentuh...Aku yang dililit pilu...saat kau tinggalkanku...Kini bersinar...saat kau tlah kembali disisiku..Aku tak menginginkanmu...sebagai pejaga hatiku..Tapi ku menginginkan engkau...sebagai pelita hidupku...sampai ku hembuskan nafas terakhirku..Dalam seset kenangan itu...Kau selami hariku dalam senyuman...Kau buat hariku menonjol...Dalam piala kegirangan...Kau meringkup dalam setiap elur nadiku...Jika kau tiada di sampingku...Maka derat jantungku pun akan berhenti...Kau adalah Perisai Hatiku....Dan Kau adalah suara Hatiku...Karya: Gracia Sari Asinta Simamora |
Cinta Yang Kau Asah
Indah
peliput matamu
Mengusut pepadan hatiku...
Irisan senyummu...
Membalur dalam kelur bibirmu
Wajah tampanmu...
Menyusut ke alam mimpiku...
Selalu terbayang...
Akan selut dirimu...
Selalu tertoler senyuman...
Tiap ku mengingat dirimu...
Aku ...
Seperti orang gila...
Merah merona di kedua pipiku...
Sejuta jerawat di wajahku....
Tiap ku ingat dirimu...
Hari seperti istana bagiku...
Pangeran... dan Putri....
Canda tawa...
terakit... dalam setiap batang hidupku...
Semua telenteran tangis di hatiku...
seakan teraput abu...
Setelah menjalani hari dengan dirimu...
Malu yang mengimpis hariku...
kini tak ku hiraukan lagi...
Saat kita berjalan bersama...
Mengarungi seasak dunia...
secara bersama...
dan meliput kegemelan hati bersama...
Kini...
Hatiku seperti pisau...
Kau asah cintaku...
Hingga ku tak rela melepaskanmu...
Karya: Gracia Sari Asinta Simamora
Mengusut pepadan hatiku...
Irisan senyummu...
Membalur dalam kelur bibirmu
Wajah tampanmu...
Menyusut ke alam mimpiku...
Selalu terbayang...
Akan selut dirimu...
Selalu tertoler senyuman...
Tiap ku mengingat dirimu...
Aku ...
Seperti orang gila...
Merah merona di kedua pipiku...
Sejuta jerawat di wajahku....
Tiap ku ingat dirimu...
Hari seperti istana bagiku...
Pangeran... dan Putri....
Canda tawa...
terakit... dalam setiap batang hidupku...
Semua telenteran tangis di hatiku...
seakan teraput abu...
Setelah menjalani hari dengan dirimu...
Malu yang mengimpis hariku...
kini tak ku hiraukan lagi...
Saat kita berjalan bersama...
Mengarungi seasak dunia...
secara bersama...
dan meliput kegemelan hati bersama...
Kini...
Hatiku seperti pisau...
Kau asah cintaku...
Hingga ku tak rela melepaskanmu...
Karya: Gracia Sari Asinta Simamora
Langganan:
Postingan (Atom)